Padi Menguning, Sejumlah Petani di Buton Terancam Gagal Panen, Ini Penjelasan Kepala BPP Siotapina

TERAWANGNEWS.com, BUTON – Sejumlah petani padi ladang di Desa Matanauwe, Kecamatan, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) terancam gagal panen tahun ini.

Pasalnya, tanaman padi yang belum memasuki masa panen justru menunjukan gejala menguning dan mengering.

Salah seorang petani setempat yang enggan dituliskan namanya mengatakan, tidak tahu menahu penyebab dari kondisi tersebut.

“Kita juga tidak tahu kenapa bisa begini,” katanya, Minggu (8/3/2026).

Lanjut petani itu mengatakan, yang membuatnya bingung adalah padi yang menguning dan mengering itu hanya bibit padi yang dibagikan secara gratis melalui pemerintah desa, sementara bibit padi lainnya yang selama ini ditanam masyarakat tidak mengalami kondisi seperti bibit yang dibagikan pemerintah tersebut.

“Yang bikin kita bingung ini kenapa hanya bibit yang dibagikan pemerintah desa ini yang begini, yang lain tidak,” ujarnya dengan nada bertanya.

Petani mengaku telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk musim tanam tahun ini. Biaya tersebut diantaranya mencakup pembersihan lahan dan pekerja yang membantu menanam padi, serta perawatan lainnya.

Sementara itu, Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Siotapina, Hamirun Midu mengatakan, gejala tersebut umumnya disebabkan karena kurangnya air.

“Itu karena kekurangan air, padi yang seharusnya mau bunting, ibaratnya seharusnya mau minum tapi tidak ada air,” katanya, Senin (9/3/2026).

Selain itu, bibit yang yang ditanam tersebut baru kali pertama ditanam di lokasi dimaksud sehingga harus beradaptasi, berbeda dengan bibit yang ditanam masyarakat Matanauwe selama ini.

“Jadi bibit dikita ini namanya Variatas Inpari 42 merupakan salah satu bibit yang panennya itu tiga bulan artinya di banding dengan yang lokal atau yang ditanam masyarakat selama ini, harus butuh perhatian lebih serius seperti ketersediaan air karena harus beradaptasi karena bibit ini baru pertama kali di tanam di Matanauwe,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi hal itu lanjut Hamirun Midu, pihaknya sekira minggu lalu setelah mendapatkan informasi tersebut, langsung menemui dan memberikan pestisida kepada sejumlah petani untuk disemprotkan ke padi menguning dan mengering itu.

“Kita sudah kasih kepada sekitar 6 orang kita kasih pestisida, kita mau kasih semua tapi yang datang waktu itu hanya sekitar 6 orang, tapi kita titip beberapa pestisida supaya dibagikan ke petani lainnya, dan sore ini rencana kami mau naik cek seperti apa perkembangannya setelah kami kasih pestisida,” ujarnya.

Ia pun mengaku, sebelumnya telah mensosialisasikan bagaimana perawatan bibit padi yang dibagikan itu, hanya saja ia mengakui informasi tersebut mungkin saja tidak menyeluruh diketahui para petani.

“Sudah berkali-kali kita sampaikan dari awal seperti apa bibit kita. Kami sosialisasikan itu lewat ketua kelompok dan anggota kelompok, dan kalo yang punya nomor HP kadang kami sampaikan lewat HP nya, tapi memang kami akui kyakanya informasi ini tidak seluruhnya sampe di para petani,” katanya.

“Kita juga sampaikan kalo ada gejala-gejala yang aneh cepat sampaikan, supaya kami cepat turun di lapangan, tapi sekali lagi kami tidak menyalahkan para petani,” sambung Hamirun Midu yang juga merupakan Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL itu.

Ditambahkan, kondisi padi menguning hanya terjadi di Matanauwe saja, sementara beberapa desa lainnya di wilayah Kecamatan Siotapina seperti Desa Walompo, Kumbewaha, Labuandiri, dan Manuru tidak terjadi hal serupa padahal yang diberikan adalah bibit yang sama.

“Kalo di Kecamatan Siotapina itu bibit yang kami berikan itu seperti di Walompo, Kumbewaha, Labuandiri, Manuru itu aman-aman saja. Pernah juga terjadi di Sumbersari padinya menguning tapi setelah disemprotkan dengan pupuk organik yang mereka beli sendiri alhamdulilah kembali normal,” pungkasnya. (Adm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *