Ortu Siswa SMA di Buton Pertanyakan Harga Menu MBG Dapur Lasalimu Selatan: Tidak Cukup Rp10.000, Sisa Anggarannya Kemana?

Oplus_131072

TERAWANGNEWS.com, BUTON – Salah satu orang tua siswa SMAN 2 Lasalimu Selatan pertanyakan sisa anggaran menu MBG dari Dapur MBG Lasalimu Selatan. Pasalnya, ia menilai selama ini porsi yang disajikan dianggap tidak sesuai dengan dana yang digelontorkan pemerintah.

Ia pun menduga, ada permainan atau pemotongan anggaran MBG. Sebab, pemerintah telah mengalokasikan sebesar Rp10.000 per porsi.

“Kalo kita hitung ini menu yang dibagikan nda cukup 10.000 semua, paling tinggi mungkin 6.000 atau 7.000, kalo tidak hanya sekitar 5.000 an, seperti menu yang dibagikan hari ini,” kata orang tua siswa yang enggan dituliskan namanya kepada media ini melalui WhatsApp sembari mengirimkan menu MBG dalam bentuk video, Jumat (13/3/2026) siang.

Hal itu lanjutnya, tidak sekali dua kali, namun hampir setiap menu yang dibagikan dianggap tidak sesuai dengan porsi anggaran yang ada, khususnya selama Bulan Suci Ramadan ini.

“Bukan baru kali ini, hampir setiap ada pembagian, khususnya di saat Bulan Puasa ini, karenakan anak-anak dia bawa kembali di rumah, jadi pas kita hitung-hitung nda cukup 10.000 semua,” ungkapnya.

Untuk itu, ia berharap kepada pengelola dapur agar betul-betul memberikan porsi MBG sesuai dengan harga yang sudah ditetapkan.

“Kita juga berharap pemerintah betul-betul awasi ini program MBG ini, biar tidak disalahgunakan,” harapnya.

Terkait itu, Kepala SPPG Dapur MBG Lasalimu Selatan, Faisal La Daio belum merespon walaupun berulang kali dihubungi melalui teleponnya.

Untuk diketahui, dilansir dari Tempo.co, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik Sudaryati Deyang menegaskan jatah menu dalam program makan bergizi gratis ditetapkan sebesar Rp 8.000-10.000 per porsi, bukan Rp 15 ribu. Pernyataan ini disampaikan menanggapi ramainya perbincangan di media sosial ihwal menu MBG pada Ramadan yang dinilai menyimpang dari ketentuan anggaran.

Nanik menjelaskan, besaran anggaran Rp 13 ribu untuk anak balita hingga kelas III SD, serta Rp 15 ribu untuk anak kelas IV SD ke atas hingga ibu menyusui, tidak sepenuhnya digunakan untuk bahan baku makanan. Sebagian anggaran tersebut dialokasikan untuk kebutuhan operasional serta insentif bagi yayasan atau mitra pelaksana.

“Jadi kami ingatkan kembali bahwa anggaran bahan makanan untuk anak balita/PAUD/TK/RA serta SD/MI kelas I-III itu sebesar Rp 8.000 per porsi. Sementara itu, untuk SD/MI kelas IV ke atas hingga ibu menyusui, anggaran bahan makanan sebesar Rp 10 ribu per porsi,” ujar Nanik melalui keterangan tertulis pada Selasa, 24 Februari 2026.

Nanik memaparkan, selain untuk bahan baku makanan, anggaran MBG mencakup biaya operasional sebesar Rp 3.000 per porsi. Dana tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan pendukung, antara lain pembayaran listrik, Internet, gas, air, insentif relawan pekerja SPPG, dan insentif guru penanggung jawab MBG di sekolah, serta insentif kendaraan.

Selanjutnya, dana operasional Rp 3.000 tersebut juga meliputi BPJS Ketenagakerjaan relawan, insentif kader posyandu yang mendistribusikan makanan untuk 3B, pembelian alat pelindung diri dan kebutuhan kebersihan, pembayaran bahan bakar mobil MBG, serta kegiatan operasional Kepala SPPG dan tim.

Sementara itu, alokasi anggaran sebesar Rp 2.000 per porsi digunakan untuk sewa lahan dan bangunan, meliputi dapur, empat gudang, dua kamar mes, pembangunan IPAL, filterisasi air, serta sewa peralatan masak modern, dari rice steamer, steam cuci ompreng, kompor, kulkas, chiller, freezer, panci, hingga sewa ompreng.

Dalam petunjuk teknis terbaru 401, kata Nanik, anggaran sebesar Rp 2.000 per porsi tersebut dikategorikan sebagai insentif fasilitas SPPG yang disediakan oleh mitra sebesar Rp 6 juta per hari, dengan asumsi setiap SPPG melayani 3.000 penerima manfaat. (Adm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *