Hukrim  

Tak Jadi Berangkat, Uangpun Raib, Puluhan Warga Baubau dan Buton Diduga jadi Korban Penipuan Travel Umroh

Oplus_131072

TERAWANGNEWS.com, BUTON – Sebanyak 62 orang diduga menjadi korban penipuan travel umroh CeleBesTrip. Sejumlah Korban akhirnya mengambil langkah hukum dengan cara melapor ke Polres Baubau, Sulawesi Tenggara atas dugaan penipuan dan penggelapan dana, Kamis (16/4/2026).

Puluhan warga yang menjadi korban travel umroh tersebut tersebar di beberapa daerah seperti Kota Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Bombana, Surabaya dan Labuan Bajo.

Salah satu korban yang berasal dari Kabupaten Buton inisial AR mengatakan, awalnya ia dan lainnya dijanjikan berangkat umroh pada 3 September 2025 lalu. Namun, hingga saat ini mereka tak kunjung diberangkatkan.

“Jadi setelah pelunasan, kami dijanji akan diberangkatkan pada tanggal 3 September 2025 lalu, tapi sampe sekarang tidak jadi,” kata AR kepada media ini, Jumat (17/4/2026).

Anehnya lanjut AR, setelah pelunasan dan dijanji akan berangkat tanggal 3 September 2025, mereka kembali diminta biaya tambahan. Namun, karena demi ibadah mereka tak mempersoalkan hal itu.

“Anehnya setelah kami melakukan pelunasan diminta lagi biaya tambahan 1,5 juta katanya untuk ongkos pesawat dari Makassar menuju Malaysia Kuala lumpur, nanti dari Kuala lumpur ke Mekkah atau Madinah ditanggung oleh mereka (pihak travel-red), tapi demi ibadah ya tidak apa-apa,” ungkapnya.

“Jadi awalnya itu kami disuruh beli tiket pesawat dengan biaya masing-masing, tiket pesawat ke Makassar, dan titik kumpulnya di Jakarta. Tapi setelah pelunasan, kami disampaikan lagi titik kumpulnya bukan lagi di Jakarta tapi di Makassar, tapi lagi-lagi karena ibadah ya kami okekan saja,” sambung AR.

Padahal kata AR, pembahasan atau kesepakatan awal dengan pihak travel melalui reseller, tidak ada biaya tambahan jika biaya keberangkatan umroh sudah dilunasi. Besaran dana umroh melalui travel tersebut bervariasi, mulai dari Rp25 juta hingga Rp30 juta. Tapi, anehnya, setelah semua dilunasi, pihak reseller justru meminta biaya tambahan yang dianggap tidak masuk akal.

“Setelah saya konfirmasi ke teman-teman ternyata biaya berangkat umrohnya beda-beda, kalo saya sendiri 26 juta 500, ada yang 25 juta, dan ada juga yang 30 juta,” sebut AR.

“Padahal awal pembicaraan bahasanya setelah lunas tidak ada lagi biaya tambahan, tapi setelah kami lakukan pelunasan itu berubah lagi, tapi karena tujuan kami mau ibadah kami tidak pertanyakan lagi itu,” sambungnya.

Lanjut AR, seluruh biaya umroh itu dikirim ke rekening travel atas arahan reseller. Namun, untuk biaya tambahan dikirim ke rekening pribadi reseller sesuai dengan permintaan reseller itu sendiri. Biaya tambahan itu pun khusus ia pribadi dikirim secara berkala, ada yang Rp1,5 juta, Rp750 ribu, Rp450 ribu dan Rp50 ribu.

“Kami disuruh pelunasan lewat reseller, kami dari awal tidak pernah komunikasi dengan travel. Kalo saya pribadi itu pelunasan lewat rekening travel tapi yang menyuruh pelunasan itu reseller ini,” jelasnya.

“Saya juga punya bukti-bukti uang tambahan ini ke nomor rekening reseller sebanyak 3 atau 4 kali transfer ke rekening reseller ada 1,5 juta, 750, 450 dan ada yang 50, anehnya untuk ambil kopor saja kami dibebankan juga,” lanjut AR dengan nada heran.

AR bilang, tahu soal travel ini dari temannya sendiri. Dan dari 62 orang yang menjadi korban tersebut paling banyak dari Kota Baubau. Ia juga mengaku, sudah pernah ketemu dengan dua orang reseller tersebut, mereka (reseller) berdomisili di Kota Baubau. Kedua reseller itu masing-masing inisial N dan WS.

“Soal kantor travelnya dimana kami juga tidak tahu, setelah kami gagal diberangkatkan kami mulai cari tahu dan ternyata yang katanya kantornya ada di Makassar padahal tidak ada,” bebernya.

Korban lainnya dari Kota Baubau inisial SN mengaku, beberapa kali pertanyakan hal itu ke pihak reseller tapi sampai saat ini tak ada kepastian, bukan hanya tidak jadi berangkat, uang merekapun raib.

“Kami tanyakan terus tapi tidak ada kejelesan dari pihak reseller, awalnya kami dijanji-janji saja sampai akhirnya kami hilang kepercayaan karena kami melihat sudah banyak unsur kebohongan, sehingga kami ambil langkah melaporkan ini ke Polres Baubau atas dugaan penipuan dan penggelapan dana,” katanya.

“Karena kami sudah mencium adanya kebohongan kami minta dananya dikembalikan dan awalnya pihak reseller masih iyakan kalo begitu list nama untuk pengembalian dana akhirnya kami list nama, banyak jamaah yang list nama untuk pengembalian tapi ujungnya tidak juga dikembalikan,” sambung SN.

Parahnya lanjut SN, setelah mereka kembali menanyakan hal itu ke reseller, justru pihak reseller bilang bahwa uang tersebut sudah habis.

“Dan setelah beberapa bulan kami tanyakan terus, reseller bilang uang sudah tidak ada uang sudah habis digunakan untuk apa jawabannya tidak ada,” tutupnya dengan nada kesal.

Hingga berita ini diterbitkan, terawangnews.com masih terus berupaya mendapatkan konfirmasi dari reseller inisial N dan WS. (Adm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *